
Bahasa Banjar adalah sebuah bahasa Austronesia yang dipertuturkan di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia.
Pengantar
Bahasa Banjar merupakan anak cabang bahasa yang berkembang dari Bahasa Melayu. Asal bahasa ini berada di provinsi Kalimantan Selatan yang terbagi atas Banjar Kandangan, Amuntai, Alabiu, Kalua, Alai dan lain-lain. Bahasa Banjar dihipotesiskan sebagai bahasa proto-Malayik, seperti halnya bahasa Minangkabau dan bahasa Serawai (Bengkulu).
Selain di Kalimantan Selatan, Bahasa Banjar yang semula sebagai bahasa suku bangsa juga menjadi bahasa lingua franca di daerah lainnya, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur serta di daerah kabupaten Indragiri Hilir, Riau, sebagai bahasa penghubung antar suku.
Bahasa Banjar banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu, Jawa dan bahasa-bahasa Dayak.
Bahasa Banjar atau sering pula disebut Bahasa Melayu Banjar terdiri atas dua kelompok dialek yaitu;
* Bahasa Banjar Hulu
* Bahasa Banjar Kuala
Bahasa Banjar Hulu merupakan dialek asli yang dipakai di wilayah Banua Enam yang merupakan bekas Afdelling Kendangan dan Afdeeling Amoentai yang meliputi kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan dan Tabalong.
Puak-puak suku Banjar Hulu Sungai dengan dialek-dialeknya masing-masing relatif bersesuaian dengan pembagian administratif pada zaman kerajaan Banjar dan Hindia Belanda yaitu menurut Lalawangan atau distrik (Kawedanan) pada masa itu, dimana pada zaman sekarang sudah berbeda. Puak-puak suku Banjar di daerah Hulu Sungai tersebut misalnya :
1. Orang Kelua dari bekas Distrik Kelua di hilir Daerah Aliran Sungai Tabalong,Kabupaten Tabalong.
2. Orang Tanjung dari bekas Distrik Tabalong di hulu Daerah Aliran Sungai Tabalong, Kabupaten Tabalong.
3. Orang Lampihong/Orang Balangan dari bekas Distrik Balangan (Paringin) di Daerah Aliran Sungai Balangan, Kabupaten Balangan.
4. Orang Amuntai dari bekas Distrik Amuntai di Hulu Sungai Utara.
5. Orang Alabio dari bekas Distrik Alabio di Hulu Sungai Utara.
6. Orang Alai dari bekas Distrik Batang Alai di Daerah Aliran Sungai Batang Alai, Hulu Sungai Tengah
7. Orang Pantai Hambawang/Labuan Amas dari bekas Distrik Labuan Amas di Daerah Aliran Sungai Labuan Amas Hulu Sungai Tengah
8. Orang Negara dari bekas Distrik Negara di tepi Sungai Negara, Hulu Sungai Selatan.
9. Orang Kandangan dari bekas Distrik Amandit di Daerah Aliran Sungai Amandit, Hulu Sungai Selatan
10. Orang Margasari dari bekas Distrik Margasari di Kabupaten Tapin
11. Orang Rantau dari bekas Distrik Benua Empat di Daerah Aliran Sungai Tapin, Kabupaten Tapin
12. dan lain-lain
Kelua, Amuntai, Alabio, Negara dan Margasari merupakan kelompok Batang Banyu, sedangkan Tanjung, Balangan, Kandangan, Rantau merupakan kelompok Pahuluan. Daerah Oloe Soengai dahulu merupakan pusat kerajaan Hindu, dimana asal mula perkembangan bahasa Melayu Banjar.
Dialek-dialek Bahasa Banjar Hulu menurut Fudiat Suryadikara (Geografi Dialek Bahasa Banjar Hulu, Depdikbud, 1984) bersesuaian dengan kecamatan-kecamatan yang berpenduduk suku Banjar yang ada di Hulu Sungai, karena orang Banjar menyebut dirinya berdasarkan asal kecamatan masing-masing. Dialek-dialek tersebut antara lain :
1. Muara Uya
2. Haruai
3. Tanjung
4. Tanta
5. Kelua
6. Banua Lawas
7. Amuntai Utara
8. Amuntai Tengah
9. Amuntai Selatan
10. Danau Panggang
11. Babirik
12. Sungai Pandan (Alabio)
13. Batu Mandi
14. Lampihong
15. Awayan
16. Paringin
17. Juai
18. Batu Benawa
19. Haruyan
20. Batang Alai Selatan
21. Batang Alai Utara
22. Barabai
23. Pandawan
24. Labuan Amas Selatan
25. Labuan Amas Utara
26. Angkinang
27. Kandangan
28. Simpur
29. Daha Selatan (Negara)
30. Daha Utara
31. Sungai Raya
32. Telaga Langsat
33. Padang Batung
34. Candi Laras Utara (Margasari Hulu)
35. Candi Laras Selatan (Margasari Hilir)
36. Tapin Selatan
37. Tapin Tengah
38. Tapin Utara
39. Binuang
Mengingat orang-orang Banjar yang berada di Sumatera dan Malaysia Barat mayoritas berasal dari wilayah Hulu Sungai (Banua Enam), maka bahasa Banjar yang dipakai merupakan campuran dari dialek Bahasa Banjar Hulu menurut asal usulnya di Kalimantan Selatan.
Dialek bahasa Banjar Hulu juga dapat ditemukan di kampung-kampung (handil) yang penduduknya asal Hulu Sungai seperti di Kecamatan Gambut, Aluh Aluh, Tamban yang terdapat di wilayah Banjar Kuala.
Dialek Bahasa Banjar Kuala yaitu bahasa yang dipakai di wilayah Banjar Kuala yaitu bekas Afdelling Banjarmasin terdiri atas Distrik Bakumpai dan Afdeeling Martapoera terdiri dari Distrik Martapura, Distrik Riam Kiwa, Distrik Riam Kanan, Distrik Pleihari, Distrik Maluka dan Distrik Satui. Kawasan tersebut pada masa sekarang ini meliputi Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tanah Laut, serta kota Banjarmasin dan Banjarbaru. Pemakaiannya meluas hingga wilayah pesisir bagian tenggara Kalimantan (bekas Afdelling Kota Baru) yaitu kabupaten Tanah Bumbu dan Kota Baru sampai ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Bahasa Banjar Kuala dituturkan dengan logat datar tanpa intonasi tertentu, jadi berbeda dengan bahasa Banjar Hulu dengan logat yang kental (ba-ilun). Dialek Banjar Kuala yang asli misalnya yang dituturkan di daerah Kuin, Sungai Jingah, Banua Anyar dan sebagainya di sekitar kota Banjarmasin yang merupakan daerah awal berkembangnya kesultanan Banjar. Dialek Barangas dipakai di daerah Bantam Raya (Berangas-Anjir-Tamban) yaitu kawasan di sekitar wilayah luar kota Banjarmasin (Kabupaten Barito Kuala). Bahasa Banjar yang dipakai di Kalimantan Tengah cenderung menggunakan logat Dayak, sehingga keturunan Jawa yang ada di Kalteng (Tamiang Layang), lebih menguasai bahasa Banjar berlogat Dayak (Maanyan) daripada bahasa Dayak itu sendiri yang sukar dipelajari.
Karena kedudukannya sebagai lingua franca, pemakai bahasa Melayu Banjar lebih banyak daripada jumlah suku Banjar itu sendiri. Pemakaian bahasa Melayu Banjar dalam percakapan dan pergaulan sehari-hari di daerah ini lebih dominan dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Berbagai suku di Kalimantan Selatan dan sekitarnya berusaha menguasai bahasa Banjar, sehingga dapat pula kita jumpai bahasa Banjar yang diucapkan dengan logat Jawa atau Madura yang masih terasa kental seperti yang kita jumpai di kota Banjarmasin.
[sunting] Bahasa Banjar Hulu vs Bahasa Banjar Kuala
* gamat (Banjar Hulu), gémét (Banjar Kuala); artinya pelan
* miring (Banjar Hulu), méréng (Banjar Kuala); artinya miring
* himpat, tawak, tukun, hantup (Banjar Hulu), hamput (Banjar Kuala); artinya lempar (sambit)
* arai (Banjar Hulu), himung (Banjar Kuala); artinya gembira
* hagan (Banjar Hulu), gasan (Banjar Kuala); artinya untuk
* tiring (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya melihat
* bungas (Banjar Hulu), langkar, béngkéng (Banjar Kuala); artinya cantik
* tingau (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya toleh, lihat
* balalah (Banjar Hulu), bakunjang (Banjar Kuala); artinya bepergian
* lingir (Banjar Hulu), tuang (Banjar Kuala); artinya tuang
* tuti (Banjar Hulu), tadi (Banjar Kuala); artinya tadi
* ba-ugah (Banjar Hulu), ba-jauh (Banjar Kuala); artinya menjauh
* macal (Banjar Hulu), nakal (Banjar Kuala); artinya nakal
* balai (Banjar Hulu), langgar (Banjar Kuala); artinya surau
* tutui (Banjar Hulu), catuk (Banjar Kuala); artinya memukul dengan palu
* tukui (Banjar Hulu), periksa (Banjar Kuala); artinya memeriksa
* padu (Banjar Hulu), dapur (Banjar Kuala); artinya ruang dapur
* kau'u (Banjar Hulu), nyawa (Banjar Kuala); artinya kamu
* diaku (Banjar Hulu), unda (Banjar Kuala); artinya aku
* disia (Banjar Hulu), disini (Banjar Kuala); artinya disini
* bat-ku, anggit-ku (Banjar Hulu), ampun-ku (Banjar Kuala); artinya punya-ku
* bibit (Banjar Hulu), ambil (Banjar Kuala); artinya ambil
* ba-cakut (Banjar Hulu), ba-kalahi (Banjar Kuala); artinya berkelahi
* ba-cakut (Banjar Hulu), ba-ingkut (banjar Kuala); artinya berpegangan pada sesuatu benda
* diang (Banjar Hulu), galuh (Banjar Kuala); artinya panggilan anak perempuan
* nini laki (Banjar Hulu), kayi (Banjar Kuala); artinya kakek
* utuh (Banjar Hulu), nanang (Banjar Kuala); artinya panggilan anak lelaki
* uma (Banjar Hulu), mama (Banjar Kuala); artinya ibu
* hingkat (Banjar Hulu), kawa (Banjar Kuala); artinya dapat, bisa
* puga (Banjar Hulu), hanyar (Banjar Kuala); artinya baru
* salukut (Banjar Hulu), bakar (Banjar Kuala); artinya bakar
* kasalukutan, kamandahan (Banjar Hulu), kagusangan (Banjar Kuala); artinya kebakaran
* tajua (Banjar Hulu), ampih (Banjar Kuala); artinya berhenti
* bapandir (Banjar Hulu), bepéndér (Banjar Kuala); artinya berbicara
* acil laki (Banjar Hulu), amang, paman (Banjar Kuala); artinya paman
Contoh Dialek Banjar Hulu
* Hagan apa hampiyan mahadang di sia, hidin hudah hampai di rumah hampian (Dialek Kandangan?)
* Sagan apa sampiyan mahadang di sini, sidin sudah sampai di rumah sampiyan. (Banjar populer)
* Inta intalu sa’igi, imbah itu ambilakan buah nang warna abang awan warna ijau sa’uting dua uting. Jangan ta’ambil nang igat (Dialek Amuntai?)
* Minta hintalu sabigi, limbah itu ambilakan buah nang warna habang lawan warna hijau sabuting dua buting. Jangan ta’ambil nang rigat.(Banjar populer)
[sunting] Perbedaan Dialek
Dialek merupakan variasi dari suatu bahasa tertentu dan dituturkan oleh sekumpulan masyarakat bahasa tersebut. Dialek ditentukan oleh fakor geografis (dialek kawasan) dan sosial (dialek sosial). Dialek sosial seperti bahasa baku, bahasa basahan (bahasa kolokial), bahasa formal, bahasa tak formal, bahasa istana, bahasa slanga (prokem), bahasa pasar, bahasa halus, bahasa kasar dan sebagainya.
Dialek kawasan berbeda dari segi:
* Sebutan
Contoh: Perkataan gimit (pelan) disebut dalam pelbagai dialek seperti gamat, gimit, gemet.
* Gaya lagu bahasa
Contoh: Subdialek Kalua biasanya mempunyai sebutan yang lebih panjang daripada Subdialek Banjarmasin.
* Tatabahasa
Contoh: kuriak-kuriak (dialek Banjar Kuala) dan kukuriak (dialek Banjar Hulu).
* Kosa kata
Contoh: hungku (dialek Kabupaten Balangan) maksudnya agaknya.
* Kata ganti diri
Contoh : kao (dialek utara Kalsel maksudnya kamu) dan unda (dialek selatan Kalsel bermaksud aku)
[sunting] Penulisan Resmi
Penulisan nama tempat dari bahasa Banjar sudah disesuaikan dengan bahasa Indonesia (diindonesiakan). Penulisan yang resmi seperti Tabalong (Tabalung), Barito (Baritu), Ot Danum (Ut Danum), Tebingtinggi (Tabingtinggi), Alabio (Halabiyu’), Kelua (Kalua’), Lampihong (Lampihung), dan lain-lain. Sedangkan di wilayah suku Dayak Maanyan di Barito Timur, penulisan nama tempat yang resmi dipakai adalah yang sesuai pengucapan lidah orang Banjar bukan dalam logat Maanyan, misalnya desa Wamman menjadi desa Bamban, desa Wammulung menjadi desa Bambulung, da lain-lain.
[sunting] Bahasa sastra dan wayang Banjar
Dalam penulisan karya sastra Banjar maupun dalam kesenian Wayang Kulit Banjar sejak dahulu sering digunakan secara khusus kosakata yang diserap dari bahasa Jawa, padahal kosakata tersebut tidak dipakai dalam bahasa Banjar sehari-hari, tetapi memang banyak pula kosakata yang diserap dari bahasa Jawa yang sudah lazim menjadi bahasa Banjar sehari-hari. Contoh kata-kata dalam penulisan karya sastra maupun wayang Banjar tersebut misalnya : karsa (kerso), gani (geni), danawa (denowo), ngumbi (ngombe), sadusu (sedhoso), sadulur (sedhulur) dan lain-lain.
[sunting] Tingkatan Bahasa
Bahasa Banjar juga mengenal tingkatan bahasa (Jawa: unggah-ungguh), tetapi hanya untuk kata ganti orang.
* unda, sorang = aku ; nyawa = kamu ---> (agak kasar)
* aku, diyaku = aku ; ikam, kawu = kamu ---> (netral, sepadan)
* ulun = saya ; (sam)piyan / (an)dika = anda --->(halus)
untuk kata ganti orang ke-3 (dia)
* inya, iya, didia = dia --->(netral,sepadan)
* sidin = beliau --->(halus)
[sunting] Bilangan
* asa (satu)
* dua (dua)
* talu (tiga)
* ampat (empat)
* lima (lima)
* anam (enam)
* pitu (tujuh)
* walu (delapan)
* sanga (sembilan)
* sapuluh (sepuluh)
* sawalas (sebelas)
* pitungwalas (tujuhbelas)
* salawi (duapuluh lima)
* talungpuluh (tigapuluh)
* anampuluh (enampuluh)
* walungpuluh (delapanpuluh)
* saratus (seratus)
* saribu (seribu)
* sajuta (sejuta)
(Bilangan angka dalam bahasa Banjar mirip bilangan dalam bahasa Jawa Kuno)
[sunting] Aksara
Penulisan bahasa Banjar pada zaman dahulu dalam aksara Arab Melayu (Jawi) misalnya;
* sastera sejarah/mitos seperti Hikayat Banjar
* peraturan kerajaan seperti Undang-Undang Sultan Adam 1825.
* perjanjian-perjanjian antara Kerajaan Banjar dengan bangsa lain.
* kitab-kitab agama Islam
* karya sastera lainnya seperti syair :
o Syair Brahma Syahdan karya Gusti Ali Basyah Barabai
o Syair Madi Kencana karya Gusti Ali Basyah Barabai
o Syair Teja Dewa karya Anang Mayur Babirik
o Syair Nagawati karya Anang Mayur Babirik
o Syair Ranggandis karya Anang Ismail Kandangan
o Syair Siti Zubaidah karya Anang Ismail Kandangan
o Syair Tajul Muluk karya Kiai Mas Dipura Martapura
o Syair Intan Permainan (anonim)
o Syair Nur Muhammad karya Gusti Zainal Marabahan
o Syair Ibarat karya Mufti Haji Abdurrahman Siddik Al-Banjary
o Syair Burung Simbangan
o Syair Burung Bayan dengan Burung Karuang
[sunting] Hikayat Banjar
Hikayat Banjar pernah diteliti oleh Johannes Jacobus Ras, orang Belanda kelahiran Rotterdam tahun 1926 untuk disertasi doktoralnya di Universitas Leiden. Promotornya adalah Dr. A. Teeuw.
Sepenggal kisah dalam Hikayat Banjar:
Maka dicarinya Raden Samudera itu. Dapatnya, maka dilumpatkannya arah parahu talangkasan. Maka dibarinya jala kacil satu, baras sagantang, kuantan sabuah, dapur sabuah, parang sabuting, pisau sabuting, pangayuh sabuting, bakul sabuah, sanduk sabuting, pinggan sabuah, mangkuk sabuah, baju salambar, salawar salambar, kain salambar, tikar salambar. Kata Aria Taranggana: "Raden Samudera, tuan hamba larikan dari sini karana tuan handak dibunuh hua tuan Pangeran Tumanggung. Tahu-tahu manyanyamarkan diri. Lamun tuan pagi baroleh manjala, mana orang kaya-kaya itu tuan bari, supaya itu kasih. Jangan tuan mangaku priayi, kalau tuan dibunuh orang, katahuan oleh kaum Pangeran Tumanggung. Jaka datang ka bandar Muara Bahan jangan tuan diam di situ, balalu hilir, diam pada orang manyungaian itu: atawa pada orang Sarapat, atawa pada orang Balandean, atawa pada orang Banjarmasih, atawa pada orang Kuwin. Karana itu hampir laut maka tiada pati saba ka sana kaum Pangeran Tumanggung dan Pangeran Mangkubumi, kaum Pangeran Bagalung. Jaka ada tuan dangar ia itu ka sana tuan barsambunyi, kalau tuan katahuannya. Dipadahkannya itu arah Pangeran Tumanggung lamun orang yang hampir-hampir itu malihat tuan itu, karana sagala orang yang hampir itu tahu akan tuan itu. Tuan hamba suruh lari jauh-jauh itu". Maka kata Raden Samudera: "Baiklah, aku manarimakasih sida itu. Kalau aku panjang hayat kubalas jua kasih sida itu." Maka Raden Samudera itu dihanyutkannya di parahu kacil oleh Aria Taranggana itu, sarta air waktu itu baharu bunga baah. Maka Raden Samudera itu bakayuh tarcaluk-caluk. Bahalang-halang barbujur parahu itu, karana balum tahu bakayuh. (J.J. Ras, Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography)
[sunting] Perbandingan Bahasa Banjar dan Bahasa Bukit
* tawing (Banjar), dinding (Dayak Bukit); artinya dinding
* banih (Banjar), padi (Dayak Bukit); artinya padi
* anum (Banjar), muda (Dayak Bukit); artinya muda
* lawang (Banjar), pintu (Dayak Bukit); artinya pintu
* janar (Banjar), kunyit (Dayak Bukit); artinya kunyit
* hayam (Banjar), hayam, hamanuk (Dayak Bukit); artinya ayam
* aruh (Banjar Hulu), aruh (Dayak Bukit); artinya kenduri, selamatan
* ganal (Banjar), ganal (Dayak Bukit); artinya besar
* bukah (Banjar), bukah (Dayak Bukit); artinya lari
* hual (Banjar), hual (Dayak Bukit); artinya tengkar
[sunting] Pengaruh Bahasa Jawa
Bahasa Banjar mengambil kata serapan dari bahasa Jawa seperti banyu (bahasa Jawa Baru), diduga dahulu kata air menggunakan bahasa Melayu Lokal Kalimantan seperti ai'(Kayong) atau aing (bahasa Bukit) atau mungkin pula menggunakan bahasa Dayak (Barito isolect) yang menggunakan istilah danum.
* hanyar (Banjar), anyar (Jawa); artinya baru
* lawas (Banjar), lawas (Jawa); artinya lama
* habang (Banjar), abang (Jawa); artinya merah
* hirang (Banjar), ireng (Jawa); artinya hitam
* halar(Banjar), lar (Jawa); artinya sayap
* halat (Banjar), lat (Jawa); artinya pisah
* banyu (Banjar), banyu (Jawa); artinya air
* sam(piyan) (Banjar), sampeyan(Jawa); artinya kamu (halus)
* an(dika) (Banjar Hulu), andiko (Jawa); artinya kamu (halus)
* picak (Banjar), picek (Jawa); artinya buta
* sugih (Banjar), sugih (Jawa); artinya kaya
* licak (Banjar), licek (Jawa); artinya becek
* baksa (Banjar), beksan (Jawa); artinya tari
* kiwa (Banjar), kiwo (Jawa); artinya kiri
* rigat (Banjar), reged(Jawa); artinya kotor
* kadut (Banjar), kadut (Jawa); artinya kantong uang
* padaringan (Banjar), pendaringan (Jawa); artinya wadah beras
* dalam (Banjar), dalem (Jawa); artinya rumah bangsawan
* iwak (Banjar), iwak (Jawa); artinya ikan
* awak (Banjar), awak (Jawa); artinya badan
* ba-lampah (Banjar), nglampahi (Jawa); artinya bertapa
* ba-isuk-an (Banjar), isuk-isuk (Jawa); artinya pagi-pagi
* ulun (Banjar), ulun (Jawa); artinya aku (halus), (aku untuk Dewa, Jawa)
* jukung (Banjar), jukung (Jawa); artinya sampan
* kalir (Banjar), kelir (Jawa); artinya warna
* tapih (Banjar), tapeh (Jawa); artinya sarung, jarik
* lading (Banjar), lading (Jawa); artinya pisau
* reken (Banjar), reken (Jawa); artinya hitung
* kartak (Banjar), kertek (Jawa); artinya jalan raya
* ilat (Banjar), ilat (Jawa); artinya lidah
* gulu (Banjar), gulu (Jawa); artinya leher
* kilan (Banjar), kilan (Jawa); artinya jengkal
* kawai, ma-ngawai (Banjar), ngawe-awe (Jawa); artinya me-lambai
* ngaran (Banjar), ngaran (Jawa); artinya nama
* paranah (Banjar), pernah (Jawa); artinya...(contoh pernah nenek)
* pupur (Banjar), pupur (Jawa); artinya bedak
* parak (Banjar), perek (Jawa); artinya dekat
* wayah (Banjar), wayah (Jawa); artinya saat
* uyah (Banjar), uyah (Jawa); artinya garam
* paring (Banjar), pring(Jawa); artinya bambu
* gawi(Banjar), gawe (Jawa); artinya kerja
* palir(Banjar), peli (Jawa); artinya zakar
* lawang (Banjar), lawang (Jawa); artinya pintu
* menceleng (Banjar), menteleng (Jawa); artinya melotot
* kancing (Banjar), kancing (Jawa); artinya menutup pintu
* apam (Banjar), apem(Jawa); artinya nama sejenis makanan
* gangan (Banjar), jangan (Jawa); artinya sayuran berkuah
* kaleker (Banjar), kleker (Jawa); artinya gundu, kelereng
* karap (Banjar), kerep (Jawa); artinya sering, kerapkali
* sarik (Banjar), serik (Jawa); artinya marah
* sangit (Banjar), sengit (Jawa); artinya marah
* pakan (Banjar), peken (Jawa); artinya pasar mingguan
* inggih (Banjar), inggih (Jawa); artinya iya (halus)
* wani (Banjar), wani (Jawa); artinya berani
* wasi (Banjar), wesi (Jawa); artinya besi
* waja (Banjar), wojo (Jawa); artinya baja
* dugal (Banjar), ndugal (Jawa); artinya nakal
* bungah (Banjar), bungah (Jawa); artinya bangga
* gandak (Banjar), gendak (Jawa); artinya pacar, selingkuhan
* kandal(Banjar), kandel (Jawa); artinya tebal
* langgar (Banjar), langgar (Jawa); artinya surau
* gawil (Banjar), jawil (Jawa); artinya colek
* wahin (Banjar), wahing (Jawa); artinya bersin
* panembahan (Banjar), panembahan (Jawa); artinya raja, yang disembah/dijunjung
* larang (Banjar), larang (Jawa); artinya mahal
* anum (Banjar), enom (Jawa); artinya muda
* bangsul (Banjar), wangsul (Jawa); artinya datang, tiba
* mandak (Banjar), mandeg (Jawa); artinya berhenti
* marga (Banjar), mergo (Jawa); artinya sebab, karena
* payu (Banjar), payu (Jawa); artinya laku
* ujan (Banjar), udan (Jawa); artinya hujan
* hibak (Banjar), kebak (Jawa); artinya penuh
* gumbili (Banjar), gembili (Jawa); artinya ubi singkong
* lamun (Banjar), lamun (Jawa); artinya kalau
* tatamba (Banjar), tombo (Jawa); artinya obat
* mara, ba-mara (Banjar), moro (Jawa); artinya maju, menuju muara
* lawan (Banjar), lawan (Jawa); artinya dengan
* maling (Banjar), maling (Jawa); artinya pencuri
* jariji (Banjar), deriji (Jawa); artinya jari
* takun (Banjar), takon (Jawa); artinya tanya
* talu (Banjar), telu (Jawa); artinya tiga
* pitu (Banjar), pitu (Jawa); artinya tujuh
* walu (Banjar), walu (Jawa); artinya delapan
* untal (Banjar), nguntal (Jawa); artinya makan (makan tanpa dimamah, Banjar)
* pagat (Banjar), pegat (Jawa); artinya putus (putusnya tali pernikahan, Jawa)
* kawo (Banjar Amuntai), kowe (Jawa), kaoh (Bawean); artinya kamu
* paray(a) (Banjar), prei-i (Jawa); artinya libur, tidak jadi (Belanda?)
* dampar (Banjar), dampar kencono (Jawa); artinya bangku kecil,(singasana, Jawa)
* burit, buritan (Banjar), mburi (Jawa); artinya belakang, (pantat, Banjar)
* pajah (Banjar), pejah (Jawa); artinya mati (mati lampu, Banjar)
* tatak (Banjar), tetak (Jawa); artinya potong (khitan, Jawa)
* pa-pada-an (Banjar), podo-podo (Jawa); artinya sama, sesama
* candi (Banjar), candi (Jawa); artinya candi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar